don't judge book by it's cover

Minggu, 19 Juli 2009

Bukan orang islam pastinya. Maaf, kalau pengetahuan saya terbatas, tapi sepengatahuanku, dalam agama keselamatan ini, tak diajarkan bagi pemeluknya untuk membunuh sesama. Anjing sekalipun, dalam sebuah riwayat, yang haram untuk dimakan, toh juga pernah menjadi mulia bagi yang menolognya dari kematian.

Lantas, siapa lagi yang meledakkan Jakarta pagi itu. Benar kata Kawan, terlalu dini untuk menuduh seseorang atau kelompok bertanggung jawab atas kejadian ini. Olehnya, heran juga dengan Pak SBY, di hari ledakan yang selayaknya menjadi hari berkabung, malah berpidato tidak karuan. Bagaimana tidak, di awal pidato beliau berbicara layaknya presiden yang berupaya menenangkan publik agar tidak mempolitisasi bom Marriot, tapi justru pidatonya berlanjut layaknya seorang intelijen yang berupaya utuk menyudutkan sekelompok orang, bahkan terkesan berupaya mengaitkan peledakan bom dengan kemenangan beliau. Bukannya menenangkan, malah meresahkan

Ah, Bapak Presiden ini,,, Maaf, belakangan memang saya mulai tidak simpati dengan pempimpin kita yang tampan ini. Berbagai cara menarik simpati rakyat, justeru tidak membuat kita berempati. Bukan lagi saatnya kita dipimpin oleh pemimpin lebay, yang selalu berharap kemenangan dari rasa kasihan rakyat.

Sekali lagi, terlalu dini menuduh siapa pelaku bom Kuningan. Semua kemungkinan bisa saja terjadi, bukankah kita terlalu sering disuguhkan konspirasi tingkat tinggi, seperti dalam film Angel and Demons. So, hati-hati saja, otak pelakunya bisa jadi sahabat, kawan, saudara, lawan, atau orang yang kita kagumi!!!!

Dan kita begadang lagi malam ini,

Sabtu, 20 Juni 2009

Kau tahu, kenapa aku paling takut dengan dinihari? Sebab konon, semua hal yang mistik dan menyeramkan paling sering muncul di selang itu. Malam yang gelapnya tak bisa bisa dirupakan, angin desisannya tak terdengar tapi dinginnya menusuk tulang iga. Jendela yang meraung-raung mencekam membuat berdiri bulu kuduk. Seperti yang kau lihat di studio tempo hari, mulut besar ini hanya menghasilkan bualan tapi tetap saja tidak mampu menutupi sebuah kelemahan besar, “saya takut setan,”.

Dan malam ini, kali kesekian saya mengganggumu. Bercengkerama lewat bantuan gelombang elektromagnetik berbagi kisah dan cerita, tentang kau, aku, kita, dan mereka yang mungkin saja telah terlelap. Maafkan aku yang tak pernah bisa bersabar dan kompromi dengan rindu hingga harus meneleponmu lagi malam ini meski hanya berselang menit lalu kita bercerita di atas trotoar memanjakan mata dengan pemandangan yang indah nian. Lebih menarik dari gulungan ombak menyapu pantai.

Walau aku sadar, tak sopan menelepon pada tengah malam, apalagi saya tahu, kau dan bantal adalah dua sejoli yang sulit dipisahkan. Da’do, begitu kau sering mendefenisikan dirimu. Tapi maafkan ku lagi, mata ini sulit terpejam, salakan anjing belakang rumah yang mungkin melihat ‘sesuatu’ membuatku harus meneleponmu untuk mengusir rasa takut ini. Mungkin saja mendengar suaramu yang melengking nan syahdu bisa sedikit menenangkan diri dari rasa takut.

Dan kita begadang lagi malam ini. Menunggu pagi dengan harap-harap cemas. Semoga esok mentari masih terbit dari timur, dan di saat senja menjemput gelap Kau masih tetap tersenyum sebab catatan harianmu penuh dengan kisah yang akan Kau ceritakan lagi besok malam,,,


Identitas, 21 Juni 2009

Maaf baru nulis,

Minggu, 07 Juni 2009

Betapapun Manohara disorot media, tak pernah berpaling imaji ini dari senyum kecilmu.

Ambalat yang luasnya sepanjang mata memandang, tak menyulut nasionalisme untuk mempertahankannya, sebab kau lebih penting untuk dipertahankan dari mereka yang ingin merebutmu.

Juga berbagai konspirasi politik demi sebuah tahta di negeri antah berantah, tak mengundang libidoku bertarung merebutnya juga, karena wanita sepertimu lebih anggun dari tahta yang mereka duduki.

*to: A.S.M -> untuk sementara sampai disini dulu, jangan pernah berhenti menginspirasiku untuk mengisi halaman ini.

FILOSOFI "PANNAI" (GORESAN TAK BERMAKNA DI HARI KARTINI)

Selasa, 21 April 2009

Sebagaimana kebiasaanku dalam menulis, sebagian berawal dari cerita lepas. Biasanya dari hal yang sepele, kemudian menarik diperbincangkan sebab kadang yang sepele itu juga memiliki sisi-sisi yang memikat. Seperti siang ini, dari celotehan kecil bersama beberapa kawan di beranda identitas sekaitan dengan perayaan hari Kartini.

Perayan kartini bagi kaum hawa merupakan spirit perjuangan menyetarakan diri dengan pria. Kartni yang dibesarkan dalam kultur jawa yang kental adalah simbol perlawanan kultural perempuan dari adat yang membelenggu. Konon katanya, tak ada tempat bagi perempuan di bangku sekolah. Tentang pengetahuan, perempuan tak layak memilikinya. Dan Kartini hadir untuk melawan itu semua.

Pasca Kartini, perjuangan perempuan merebut ruang publik yang selama beratus tahun tabu bagi mereka terus dikumandangkan. Bagi sebagian aktivis gender, pemenuhan hak perempuan sampai dengan hari ini masih belum terwujud. bahkan yang lebih ekstrem, sebagian mereka masih menganggap bahwa semua laki-laki yang telah membuat perempuan tak bisa bergeser dari sumbu subordinat.

Tapi Saudariku, tulisan ini semata celotehan belaka, tak ada tendensi gender di dalamnya. Percayalah, tak semua lelaki seperti Datuk Maringgi yang mengebiri cinta Siti Nurbaya, juga tak semua kami adalah Syeh Puji yang begitu rela mengawini gadis di bawah umur. Percayalah, di belahan bumi ini, masih ada kami, lelaki yang selalu menempatkan perempuan pada altar suci untuk senantiasa dicintai. Bahwa tangan ini bukan untuk menampar pipimu yang halus, tapi untuk setiap saat melindungimu dari marabahaya, dan sesekali membelaimu sebagai tanda kasih. Percayalah!

perayaan Kartini kali ini mengingatkanku dengan nasib perempuan bugis yang sampai saat ini masih menjadi polemik di masyarakat. sebagian kita begitu keras mencibir orang tua dari perempuan bugis sebagai Bapak yang begitu kejam karena memperjualbelikan anaknya dengan sejumlah "PANNAI". Biasanya berupa emas berkilo-kilo, sepetak sawah hingga, uang bernilai puluhan juta.

Makanya, tidak sedikit mereka yang telah memadu kasih selama bertahun-tahun harus rela berpisah hanya karena uang "pannai" yang ditawarkan kurang Rp 10 juta. Tidak heran, sebagian kawanku mulai berpikir ulang untuk menikahi perempuan bugis, selain karena tak sanggup dengan prasyarat material itu juga karena secara prinsip mereka memandang prosesi pernikahan seperti ini tak ada bedanya dengan transaksi perdagangan.

terlebih menikahi mereka yang telah menyandang gelar akademik dibelakang namanya serta telah menginjakkan kaki di tanah suci, semisal "Hj. BESSE SE, MSi", tak kurang dari 50 juta yang harus dipersiapkan bagi lelaki yang ingin mempersuntingnya.

"lebih baik menikah dengan gadis sunda" kata seorang teman. Tidak perlu menguras keringat selama 3 tahun untuk mengumpulkan uang pannai, tapi cukup dengan seperangkat alat shalat dan uang administrasi untuk mengurus surat nikah.

Tapi benarkah, bapak dari perempuan bugis adalah orang tua bejat yang memperjual belikan anaknya? Ataukah ada makna lain dari prosesi ini sehingga sekalipun roda zaman begitu cepat berputar, arus globalisasi begitu deras, "panai" tak pernah tergerus oleh modernisasi. Malah, semakin tahun, besarannya pun semakin menggila.

Dari diskusi tadi, dengan beberapa kawan, yang juga orang bugis, saya sedikit mulai maklum dengan "pannai". Konon, "pannai" tak sekedar deretan angka finansial. Lebih dari itu, ada pesan moral didalamnya. dalam tradisi bugis (sekali lagi, ini cerita dari kawan yang asli bugis tadi) pernikahan merupakan sesuatu yang sakral. Anak perempuan merupakan simbol "siri" keluarga.

Karena itu melepas anak perempuan untuk dipersunting bukan perkara sembarang. setiap bujang yang ingin menikahi anak gadis, harus memiliki tekad yang bulat untuk menikahinya. Tekad yang bulat itu harus ditandai dengan perjuangan yang gigih untuk mendapatkannya serta kesediannya untuk menjaga sang gadis pasca pernikahan dengan mencukupi kebutuhan batiniah maupun materiialnya.

Dan besaran "pannai" yang tinggi merupakan bukti seberapa besar keinginan itu. Konon kabarnya, ada yang menunggu hingga tiga tahun bekerja sampai tabungannya cukup untuk bisa mempersunting sang gadis. Perjuangan yang besar itu pula yang akan melanggengkan hubungan itu nantinya.

Terkait dengan maraknya perceraian belakangan ini, "pannai" juga dianggap dapat dijadikan faktor yang membuat orang berpikir untuk bercerai. Karena "pannai" yang begitu menggila sehingga setiap suami akan berpikir panjang bila ingin menceraikan istrinya. pengorbanan yang besar tak akan mungkin begitu mudah untuk disia-siakan lewat perceraian.

lihat saja, atau kalo ada yang bersedia survei, perbandingan angka perceraian di pulau jawa dengan di sulawesi selatan, anda akan temukan bahwa lebih besar di pulau jawa. Mungkin salah satu faktornya sebab disana pernikahan begitu mudah, perceraian pun demikian. sementara disini, dengan prasyarat yang sulit menjadikan pernikahan tak mudah goyang hanya karena perkara sepele.

So, kepada perempuan bugis, selamat hari kartini! Bilang pada bapakmu, untuk setiap "pannai" yang ditawarkan, tak menyurutkan semangat mendapatkanmu. Hahaha....

Tidak ada tempat untuk mengasingkan diri

Jumat, 17 April 2009

Dalam film Gie, heroisme harus berakhir dengan kepecundangan. “Lebih baik mengasingkan diri, daripada menyerah pada kemunafikan,”. Ungkapan populis dari pejuang mahasiswa tahun 60an itu kini telah membahana di sebagian sanubari anak muda. Sebagian kita begitu bangga mengumandangkan slogan itu.

Tapi bukankah diksi itu petanda kekalahan. Bahwa Gie bukan benar-benar petarung. Drama kepahlawanan pejuang sejati yang dikisahkan dari awal cerita film Gie harus berakhir dengan kisah yang mengenaskan. Anak muda itu menjadi fatalis, lari ke gunung setelah Jakarta kala itu telah berpindah dari Soekarno ke militer. Ia mengasingkan diri ketika kota yang sebentar lagi dalam genggaman militer juga atas andilnya.

Setelah itu semua, dengan sangat terpaksa saya kembali mempertanyakan kepahlawanan Gie. Maaf kawan kalau idolamu itu harus saya gugat kembali! Bukankah memang sejarah harus kita gugat atas apa yang kita rasakan saat ini?

Atau adakah memang “jalan sunyi” adalah pilihan tepat atas semua probelamtika umat?

Sepekan lalu dalam pemuli 2009, setelah mencontreng, saya menulis catatan tentang perubahan di situs ini, sejumlah komentar melengkapi catatan itu. Satu komentar yang membuat saya tertarik membacanya dari seorang kawan, ia menulis seperti ini “…..dan akhirnya kami memilih untuk tidak berpolitik dan mengasingkan diri ke berbagai penyangga-penyanggalangit. kami bukannya apatis terhadap bangsa ini, kami bahkan lebih mencintai tanah air ini. seandainya Soe hok gie masih hidup, mungkin beliau pun akan ikut bersama kami dan menjadi Bunga dalam kegembiraan ini, gembira dalam menapak tangga-tangga langit tanpa menghiraukan kursi-kursi dunia…..”

Tabe kawan, saya paham kegelisahanmu, jika di negeri ini masih banyak yang belum selesai. Kita semua maklum itu. Dan mungkin memang tidak akan pernah selesai. Hal-hal menggelitik yang sesekali membuat kita mual tak akan pernah lekang. Di zaman manapun kita berada. Tatanan masyarakat akan selalu dijejali permasalahan.

Memilih “jalan sunyi” adalah pilihan fatalis yang bagi saya lucu di zaman yang terus bergerak. Diam tak selamanya emas. Apa bedanya apolitis dengan apatis? Selain bahwa keduanya sama, tak menghasilkan sesuatu apapun.

Olehnya, masihkah kita harus mengasingkan diri? Mengasingkan diri kemana saat semua arena telah ramai oleh gambar para caleg. Tak ada pilihan lain bro, berjalan dalam keramaian dan mencoba membangun arena sendiri. Dalam mainstream global yang mungkin mendehumanisasi bukan berarti tak ada ruang untuk kita bercerita dan membangun bangsa. Di blog ini salah satunya. Hahahah….

change

Jumat, 10 April 2009

Saya tertarik menulis ini saat membaca profil seorang kawan di facebook, ia menulis seperti ini “change without change”. Pesimistis. Segera kita paham ini bertalian dengan pemilu 2009. Dua hari setelahnya ia menulis itu dan seluruh stasiun televisi telah mengumumkan hasil perhitungan cepat versi lembaga survey.

Hiruk pikuk pemilu menjadi magnet menarik perhatian setiap orang. Dari yang pro-demokrasi hinga yang anti demokrasi sekalipun tak luput membincangkannya. Kita semua tahu dalam negara demokrasi kehadiran pemilu diharapkan bisa menjadi jembatan perubahan dari satu kondisi ke kondisi lainnya. Perubahan ke arah yang lebih baik adalah cita-cita semua.

Dalam konteks kemasyarakatan, paradigma yang menganggap perubahan selalu bersifat patron klien dimana perubahan dalam kehidupan sosial masyarakat tergantung kepada pemimpnnya tentu akan berharap besar pemilu bisa menghasilkan pemimpin yang adil dan cerdas.

Dan memang sebagian besar masyarakat kita adalah tipikal masyarakat seperti ini yang selalu menisbahkan perubahan pada mereka yang di atas sana. Kepada mereka yang menempelkan fotonya di tiang listrik dan di median jalan kita percayakan hidup kita.

Untuk sebuah negeri yang terhampar luas dari Sabang sampai Merauke dengan ribuan pulau di dalamnya dan berjuta hasil bumi, sangat memprihatinkan bila ratusan juta rakyatnya hanya bisa berbuat satu hal dalam lima dan selanjutnya berharap akan ada perubahan besar oleh segelintir orang setelahnya.

Adakah sejarah yang telah membentuk frame befikir seperti ini? Suguhan cerita tentang Ratu Adil dan Satrio Piningit mungkin jugalah yang sedikit banyaknya telah menjadikan masyarakat kita melodramatik. Senantiasa menanti. “Tentang Negara serahkan pada ahlinya, bukan kita yang harus mengurusnya”. Dan bila yang dinanti tak kunjung datang pemilu diadakan lagi untuk itu. Kitapun menanti dan menanti lagi!

Di pemilu 2009 ini sebagian kita masih bersikap sama. Mengharap akan hadir Satrio Piningit yang akan menyulap negeri bak permadani yang tak terpermanai dan kita pun bisa tidur nyenyak di atasnya.

Dan tampaknya memang kita masih harus menanti dan menanti lagi! Menyerahkan sepenuhnya kepada mereka tidak lebih dari yang kawanku tulis tadi, yang ada hanya “change without change”.

Kita butuh pemimpin, itu pasti. Tapi bukan mereka melainkan kitalah yang akan mengusung perubahan itu.

Semua tak akan pernah selesai hanya dengan keluar dari bilik suara. Apa lagi setelahnya? Mungkin ini yang harus kita jawab.

*untuk Irga: maaf saya pinjam istilahta

Karena Tentangmu, Kau Saja Yang Beri Judul

Selasa, 31 Maret 2009

Tiap saat sehabis bersua, selalu ada hasrat menulis sajak,
tentang bibirmu,
tentang matamu,
tentang parasmu,
tentang lakumu,

tapi dalam kegemetaran, jemari gamang mendendangkan kata
seperti lidah yang keluh, gagap saat bercakap denganmu di cafe tadi
kata segan tidak mampu menghimpun diri dalam sajak
karena ribuan sajak syahdu oleh penyair sekaliber Sa'di, Rumi, ataupun Gibran
tak ada yang bisa menandingi semua keelokanmu tadi

Tamalanrea, 31 maret 2009
*mencoba jadi penyair sampai akhirnya sadar tak pernah berbakat jadi penyair, cukup jadi penikmat syair saja