“Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu,”
-Andrea Hirata-
Saat baru mendengar rencana difilmkannya novel Laskar Pelangi, saya cenderung tidak sepakat. Belajar dari beberapa film yang diangkat dari cerita novel, selalu mengalami pergeseran makna dan alur cerita. Ayat-ayat cinta misalnya. Pada novelnya, sisi dakwah adalah hal yang paling ditekankan. Sementara, dalam film lebih banyak menyorot drama cinta segitiga, Fachri, Maria, dan Aisyah.
Kekhawatiran jika hal yang sama pada film Laskar Pelangi juga dirasakan oleh sebagian besar pembaca novel Laskar Pelangi. Fiksi sains bertema pendidikan karya monumental Andrea Hirata ini cukup menggemparkan dunia sastra Indonesia. Jika selama ini sastra hanya dipandang sebelah mata, Tetralogi Laskar Pelangi hadir begitu inspiratif dan mampu menyulap pembaca novel di tanah air yang sudah jenuh dengan sajian novel melodramatik dangkal.
Kekhawatiran ini memunculkan rasa penasaran saya untuk menonton filmnya. Bersama kawan di jurnalis kampus, saya sempatkan menonton film ini. Rupanya, apresiasi penonton tanah air terhadap film Laskar Pelangi juga tidak kalah dibanding novelnya. Antrian di loket karcis masuk bioskop masih panjang hingga dua minggu setelah tayangan perdananya. Untunglah, kawan yang memesan tiket lumayan lincah.
Di dalam studio yang disesaki penonton, kekhawatiran itupun terjawab sudah. Alur cerita dengan latar sepuluh anak Belitong coba ditampilkan oleh Riri Riza dan Mira Lesmana dengan berbagai karakter yang tidak jauh beda dengan yang ada di novel. Hanya saja, mungkin karena dibatasi oleh durasi waktu, tidak semua karakter ditampilkan detail. Film ini lebih memfokuskan pada beberapa karakter saja. Seperti, IKal selaku tokoh utama, Lintang yang jenius, Mahar yang artistik, Ibu Muslimah (Cut Mini) yang begitu komitmen terhadap pendidikan, serta Pak Arfan yang begitu setia pada sekolah mereka. Sementara Kucai yang jago lobi tidak begitu disorot, begitupun dengan beberapa anak lainnya yang diceritakan cukup detail dalam novel. Visualisasi dalam film cukup menguatkan beberapa karakter diatas.
Ibu Muslimah misalnya, narasi Andrea Hirata coba diperkuat lagi oleh sutradara dengan menampilkan sisi lain dari kehidupan Ibu Muslimah sebagai penjahit sekaligus perawan kampung yang lebih peduli pada muridnya daripada lirikan Pak Mahmud (Tora Sudiro).
Demikian halnya dengan Pak Arfan, penjaga moral yang tak pernah surut semangatnya mengurus sekolah yang hanya bermuridkan sepuluh orang, meski tanpa keuntungan sepeserpun. “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya,” demikian lelaki renta itu menyemangati Laskar Pelangi.
Ikal, meski masih tebilang kanak-kanak, cinta monyetnya dengan A Ling memperkaya cerita film agar tidak terkesan kaku. A Ling adalah obsesi Ikal yang mengantarkannya keliling dunia. Sebuah misteri yang sampai novel ketiga (Edensor) masih belum ditemukan jawabannya. Sayang, Riri Riza tak menceritakan ini.
Yang menarik dari film ini, tidak meninggalkan tema sentral sebagaimana Andrea menarasikannya dalam novel, yaitu pendidikan. Film Laskar Pelangi, sekalipun hanya memenggal beberapa cerita dari novel, tetapi tetap saja memberikan inspirasi bagi penonton betapa pentingnya pendidikan.
Sosok Lintang yang jenius adalah potret buram pendidikan kita. Film ini memahamkan kita kalau di negeri ini pendidikan masih seperti menara gading yang harus di nomor duakan demi menafkahi keluarga. Minggatnya Lintang dari sekolah mereka membuktikan bahwa untuk sekolah di negeri ini tidak cukup hanya dengan semangat dan keenceran otak. Di usianya yang masih belia ia dipaksa menanggung beban hidup yang belum seharusnya ia pikul. Bekerja menafkahi keluarga dan meninggalkan buku serta teman sepermainan.
Dan realitasnya memang demikian. Belum ada langkah konkrit yang jelas dari pemerintah kita untuk menghindarkan anak-anak agar tak menjadi Lintang-Lintang yang lain. Berbagai program yang dicanangkan tidak lebih dari upaya menghabiskan anggaran saja. Sementara output dan benefitnya belum terasa.
Di zaman sekarang ini, sulit lagi rasanya mencari sekolah seperti SD tempat mereka bersekolah. Yang tak mengharap uang SPP tapi lebih berorientasi pada pengembangan akhlak dan kecerdasan anak didiknya. “Disini, kecerdasan tidak diukur dengan nilai-nilai angka semata, tapi dengan hati,” kata Pak Arfan.
Hadirnya sosok Mahar dalam film ini, setidaknya memberikan sudut pandang lain tentang paradigma kecerdasan. Bahwa bukan hanya Lintang yang cerdas, Mahar yang suka musik pun juga dapat dikatakan cerdas. Oleh Dimitri Mahayana menyebutnya Multi Intelegentia. Orang cerdas bukan hanya mereka yang pandai matematika dan fisika, mereka yang peka terhadap musik disebut kecerdasan musik.
Namun, dibalik kesuksesan film ini, ada beberapa catatan yang bagi saya perlu juga diungkap untuk mengkritisinya. Yang pertama, Riri Riza dan Mira Lesmana tidak begitu banyak menceritakan tentang diskriminasi PN TIMAH terhadap warga sekitarnya. Sebagaimana Andrea Hirata menjelaskan dalam novelnya, penduduk asli Belitong harus menjadi penonton di rumah sendiri.
Kedua, kesan hiperbolik dalam film ini masih kita temukan. Karena ini film berangkat dari pengalaman empiris penulisnya, harusnya sang sutradara juga melakukan studi lapangan terutama terkait dengan kondisi dan kurikulum di sekolah. Pemahaman Lintang yang masih kelas lima sekolah dasar terhadap teori gerak lurus (s= v.t) adalah berlebihan. Sebab sepemahaman saya, teori ini baru diajarkan di bangku sekolah menengah pertama (SMP).
Tapi, untuk keseluruhan film, perlu rasanya saya angkat topi untuk sutradara dan semua pemerannya.
PESAN EDUKASI FILM LASKAR PELANGI
Rabu, 2008 Oktober 08
Diposkan oleh opu_ikbal di 18:13
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
1 komentar:
Buku dan Film Laskar Pelangi menghentak khalayak, menggugah para guru, menginspirasi jutaan pembaca, menghardik dunia pendidikan di negeri ini. Asrori S. Karni menyebutnya The Phenomenon.
Buku Anak-anak Membangun Kesadaran Kritis barangkali dapat melengkapi gambaran tentang bagaimana anak bila diberikan perlakuan yang tepat (memberikan hati seperti dilakukan bu Muslimah) dan kesempatan untuk berpartisipasi maka anak-anak dapat menjadi subyek/pelaku perubahan sosial yang luar biasa.
Salam hangat dan silah kunjung
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/buku-online-gratis-anak-anak-membangun.html
Poskan Komentar